20.6.09

Belajar Bersyukur

20.6.09

Seorang pemilik toko kelontong baru saja membuka pintu tokonya ketika ia melihat seekor anjing merah berbelang putih berdiri di depan tokonya dengan sebuah gulungan kertas kecil di mulutnya. Anjing itu melepaskan gulungan kertas tersebut dari gigitannya dan sang pemilik toko yang penasaran mengambilnya. Di dalam kertas tersebut ada uang sebesar Rp 50.000,- dan catatan belanjaan: 1/4 kg mentega, 1 ons kayu manis bubuk, 1 ons pengembang kue. Pemilik toko segera menyiapkan bahan-bahan yang dipesan, memasukkan uang kembalian ke dalam kantong belanja dan memberikan belanjaan itu kepada anjing. Anjing itu segera membawa kantong berisi belanjaan dengan mulutnya. Pemilik toko yang penasaran dan kagum terhadap si anjing, diam-diam mengikuti anjing itu dari belakang. Ia melihat si anjing pintar menunggu di halte, sambil memperhatikan bus-bus yang lewat. Tak lama kemudian, bus dengan nomor 31 lewat dan si anjing langsung naik. Di pinggir sebuah jalan besar ia turun dan menuju ke sebuah rumah dengan halaman yang luas.Pemilik toko memperhatikan bagaimana anjing pintar itu menggonggong sambil mengelilingi rumah. Karena pintu tidak dibukakan ia mulai membentur-benturkan tubuhnya ke daun pintu, hingga akhirnya seorang ibu bertampang galak membuka pintu. Berkali-kali ia memukul di anjing dengan tongkat. Karena tidak tahan, si pemilik toko mendekat dan bertanya, "Mengapa Ibu memukul anjing istimewa ini ? Aku belum pernah melihat anjing sepintar ini," katanya. "Kamu bilang anjing ini pintar ? Anjing bodoh ini sudah berapa kali pergi dan lupa membawa kunci," jawab si ibu pemilik anjing.

Kisah di atas merupakan gambaran untuk kita yang seringkali tidak bisa mensyukuri pemberian-pemberian berharga dari Tuhan. Karena terlalu banyak menuntut, maka kita buta terhadap banyak kebaikan dan kemurahan yang Tuhan berikan yang sudah seharusnya kita syukuri. Belajarlah melihat kebaikan Tuhan dan bersyukurlah.

(Sumber: Manna Sorgawi)

Related Posts:



Widget by Scrapur

0 comments:

Poskan Komentar